Alergi Susu Formula
Alergi susu formula adalah kondisi yang muncul sebagai akibat reaksi imunologis terhadap protein yang terkandung dalam susu formula, yang mayoritas berupa protein susu sapi.
Gejala
Gejala alergi susu formula dapat dibedakan antara yang diperantarai oleh Immunoglobulin E (IgE) dan yang tidak:
1. Alergi yang diperantarai IgE
Gejala alergi yang diperantarai oleh IgE, umumnya muncul dalam waktu 30-60 menit setelah mengonsumsi susu formula.
Berikut beberapa gejala yang muncul:
- Urtikaria atau kemerahan dengan bentol dan gatal di kulit
- Angioedema atau bengkak, kemerahan, dan agak nyeri di bibir, kelopak mata, atau bagian kulit lain
- Ruam kulit
- Dermatitis atopik atau eksema
- Muntah
- Nyeri perut
- Diare
- Hidung tersumbat
- Asma atau mengi
- Syok
2. Alergi yang tidak diperantarai IgE
Kemunculan alergi ini tidak diperantarai oleh IgE, melainkan oleh IgG.
Gejala muncul lebih lambat, yaitu >1 jam setelah mengonsumsi susu formula.
Berikut beberapa gejala yang muncul:
- Muntah
- Diare
- Kolik
- Enterokolitis
- Anemia
- Gangguan pertumbuhan
Penyebab
Berikut adalah beberapa penyebab bayi mengalami alergi terhadap susu formula:
1. Sistem imun bereaksi berlebihan
Bayi mengalami alergi terhadap susu formula karena sistem imun bereaksi berlebihan terhadap protein yang terkandung dalam susu formula.
Tubuh akhirnya melepaskan senyawa histamin yang menyebabkan munculnya reaksi alergi.
2. Saluran pencernaan belum matang
Saluran pencernaan bayi belum berkembang sempurna sehingga alergen dapat menembus mukosa usus dan terbawa ke seluruh tubuh melalui aliran darah.
Faktor risiko
Berikut adalah faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya alergi susu formula:
- Faktor genetik. Bila salah satu orang tua memiliki riwayat atopik, kemungkinan terjadinya alergi susu formula sekitar 17–29%. Sedangkan bila keduanya, kemungkinan alergi adalah 53-58%.
- Bayi terlalu cepat diberi susu formula. Periode menyusu yang terlalu singkat akan meningkatkan risiko hipersensitivitas terhadap susu formula. JIka ASI berperan dalam menyeimbangkan bakteri pada usus dan memiliki sifat anti-inflamasi, maka susu formula tidak.
Diagnosis
Diagnosis alergi susu formula ditegakkan dengan menilai kondisi klinis berupa gejala alergi, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
1. Uji IgE spesifik
Uji IgE spesifik terdiri dari 2 jenis, yaitu:
- Uji tusuk kulit di lengan bawah atau bagian punggung. Batasan usia terendah untuk uji tusuk kulit adalah 4 bulan. Bila uji tusuk kulit positif, kemungkinan alergi susu formula sebesar <50%.
- Uji IgE Radio Allegro Sorbent Test (RAST), dilakukan bila uji tusuk kulit tidak dapat dilakukan. Anak dinyatakan alergi susu formula apabila kadar serum IgE spesifik antibodi untuk susu formula >5 kIU/L pada anak usia <2 tahun dan >15 kIU/L pada anak usia >2 tahun.
2. Uji eliminasi dan provokasi
Uji ini merupakan pemeriksaan baku untuk diagnosis alergi susu formula, yaitu:
- Selama uji eliminasi, bayi dengan gejala alergi ringan sampai sedang diberikan susu formula terhidrolisat ekstensif, sedangkan bayi dengan gejala alergi berat diberikan susu formula berbasis asam amino.
- Uji provokasi dilakukan 2-4 minggu setelah uji eliminasi. Diagnosis alergi susu formula ditegakkan jika gejala alergi muncul kembali. Bayi diperbolehkan minum susu formula kembali jika tidak muncul gejala setelah 3 hari.
Penanganan
Berikut adalah langkah penanganan jika bayi mengalami alergi terhadap susu formula:
- Menghindari alergen, tetapi tetap memastikan pemberian nutrisi yang seimbang dan sesuai untuk tumbuh kembang bayi
- Pemberian susu hipoalergenik sampai usia bayi 9-12 bulan atau minimal 6 bulan. Setelah itu, kembali lakukan uji provokasi
- Pemberian antihistamin untuk mengatasi alergi, sesuai dengan resep dokter
Dampak
Alergi susu formula yang tidak teratasi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan.
Hal ini disebabkan lapisan usus yang rusak dan tidak berfungsi baik dapat mengganggu penyerapan dan proses pencernaan mikronutrien dan makronutrien.
Pencegahan
Pencegahan alergi susu formula pada bayi baru lahir dapat dilakukan dengan cara berikut ini:
1. Memberikan ASI eksklusif
Mommy dianjurkan untuk memberikan ASI pada bayi setidaknya hingga usia 6 bulan.
2. Memberikan susu formula terhidrolisis parsial
Bagi bayi yang tidak mengonsumsi ASI, berikan susu formula terhidrolisis parsial yang tidak berasal dari susu sapi, seperti susu kedelai.
Hal ini dilakukan sebelum terjadi sensitisasi dengan tujuan untuk merangsang timbulnya toleransi susu formula berbasis protein sapi di kemudian hari.
Ini dikarenakan susu formula terhidrolisis parsial masih mengandung sedikit partikel susu sapi.
Kondisi darurat
Segera bawa bayi ke dokter apabila menunjukkan gejala alergi berat. Gejala umumnya muncul tiba-tiba dan tidak lama setelah mengonsumsi susu formula:
- Sesak napas akibat penyempitan atau pembengkakan jalan napas
- Syok ditandai dengan penurunan tekanan darah
- Bengkak pada wajah, bibir, atau sekitar mata
- Kemerahan pada wajah
- Gatal
Rekomendasi susu formula untuk bayi alergi
Susu hipoalergenik terbukti tidak menimbulkan reaksi alergi pada 90% bayi atau anak dengan diagnosis alergi susu formula yang berbasis protein sapi.
Berikut susu yang termasuk dalam kriteria susu hipoalergenik.
- Susu formula terhidrolisat ekstensif, digunakan untuk bayi dengan gejala ringan hingga sedang. Contohnya Nutramigen®, Pregestimil®, dan Pepti-Yunior®.
- Susu formula asam amino, digunakan untuk bayi dengan gejala alergi berat atau bayi yang tidak mengalami perbaikan setelah mengonsumsi susu formula terhidrolisat. Contohnya Neocate®.
- Susu formula berbahan isolat protein kedelai, sebagai alternatif bila susu formula terhidrolisat ekstensif tidak tersedia atau terdapat kendala biaya. Hindari pemberian susu kedelai segar atau murni, atau yang dibuat untuk orang dewasa karena kandungan nutrisinya tidak sesuai untuk bayi
Alergi Vs intoleransi laktosa
Ketahui perbedaan alergi dengan intoleransi laktose, berikut ini:
Definisi intoleransi laktosa
Berbeda dengan alergi, intoleransi laktosa adalah gejala klinis yang muncul akibat laktosa yang tidak terpecah secara optimal di usus halus.
Hal ini diakibatkan oleh kurangnya enzim laktase dalam tubuh.
Gejala intoleransi laktosa
Berikut adalah gejala intoleransi laktosa yang perlu Mommy perhatikan:
- Diare
- Kembung
- Nyeri perut
- Muntah
- Sering buang angin
- Kemerahan di sekitar anus
- Tinja berbau asam.
Alergi susu formula berbasis protein sapi dapat dicegah dan dikendalikan. Segera periksakan bayi ke dokter bila gejala alergi muncul.
FREQUENTLY ASKED QUESTION
Bagaimana cara mengetahui bayi tidak cocok susu formula?
Bayi tidak cocok susu formula dari gejala alergi yang muncul, baik pada kulit, saluran napas, atau saluran cerna.
Selain itu, dugaan alergi susu formula juga dapat dibuktikan dengan uji tusuk kulit, uji IgE RAST, serta uji eliminasi dan provokasi.
Berapa lama reaksi alergi susu sapi muncul?
Gejala alergi susu sapi umumnya muncul pada 6 bulan pertama kehidupan. Sebanyak 28% kasus muncul setelah 3 hari minum susu sapi, 41% setelah 7 hari, dan 68% setelah 1 bulan. Pada 85% kasus, bayi akan toleran terhadap susu sapi sebelum usia 3 tahun.2
Penulis : apt. Silvia Dwi Puspa Susanti, S.Farm. Tim penulis Mommy101, disadur dari berbagai sumber.
Sumber
- Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014. Diagnosis dan Tata Laksana Alergi Susu Sapi https://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wp-content/uploads/2017/03/Rekomendasi-Diagnosis-dan-Tata-Laksana-Alergi-Susu-Sapi-2014.pdf (diakses tanggal 24 Juli 2021).
- Siregar, S.P., dan Munasir, Z. 2006. Pentingnya Pencegahan Dini dan Tatalaksana Alergi Susu Sapi. Sari Pediatri Vol 7. No. 4.

