Pemanis, Pewarna, Pengawet dan Penguat Rasa
Zat Aditif
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 33 Tahun 2012 Pasal 3, terdapat 27 golongan zat aditif, di antaranya pemanis (sweetener), pewarna (color), pengawet (preservative), dan penguat rasa (flavor enhancer).1
Pemanis
Jenis
Berikut beberapa jenis pemanis buatan yang banyak beredar.2
- Sakarin
- Acesulfame potassium
- Sucralose
- Aspartam
- Stevia, pemanis yang berasal dari tumbuhan. Terbukti secara klinis tidak memengaruhi perkembangan janin.2
Bahaya
Berikut risiko yang dapat ditimbulkan dari konsumsi pemanis buatan.
- Sakarin berpotensi memicu kanker jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu lama3
- Aspartam tidak dianjurkan untuk ibu hamil. Penumpukan zat aditif ini dalam tubuh dapat berbahaya bagi perkembangan otak janin2 dan menyebabkan keterbelakangan mental1
- Sebagian besar pemanis buatan dapat menembus plasenta2
- Konsumsi gula berlebih dapat berujung pada obesitas yang berisiko bagi kesehatan
Batas aman
Pemanis buatan dipertimbangkan aman untuk ibu hamil dan janin jika digunakan dalam batas ADI (Acceptable Daily Intake).1
Acceptable Daily Intake (ADI) adalah jumlah maksimal zat aditif yang aman dikonsumsi setiap hari seumur hidup tanpa menimbulkan efek negatif terhadap kesehatan.
Batas konsumsi harian untuk sakarin dan sucralose adalah 5 mg per kg berat badan. Sedangkan untuk aspartam adalah 20 mg per kg berat badan.3
Pewarna
Pewarna adalah zat yang berasal dari bahan buatan atau bahan alami seperti tumbuhan, hewan, atau mineral yang menambah warna pada makanan.5
Jenis
Terdapat dua jenis pewarna berdasarkan sumbernya, yaitu pewarna alami dan pewarna buatan.
Pewarna alami dibuat dari bahan alami, seperti tumbuhan, hewan, atau mineral. Berikut beberapa zat pewarna alami yang umum digunakan.6
- Carotenoid berwarna merah, kuning, atau oranye. Zat pewarna ini di antaranya terdapat pada labu kuning dan ubi jalar
- Klorofil adalah zat warna alami yang dapat ditemukan pada semua tanaman hijau
- Anthocyanin adalah senyawa yang memberi warna ungu dan biru, misalnya pada anggur, bluberi, dan cranberri
- Turmeric adalah zat warna kuning alami yang didapatkan dari kunyit
- Cochineal adalah ekstrak dari sejenis serangga yang dapat memberi warna kemerahan
Pewarna buatan mayoritas berasal dari minyak mentah. Hanya satu yang tidak, yaitu Blue No. 2, atau indigotine.6
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia memberikan izin penggunaan 11 jenis pewarna makanan sintetis berikut pada sebagian besar makanan dan minuman.7
- Tartrazin CI. No. 19140 (Tartrazine)
- Kuning kuinolin CI. No. 47005 (Quinoline yellow)
- Kuning FCF CI. No. 15985 (Sunset yellow FCF)
- Karmoisin CI. No. 14720 (Carmoisine)
- Ponceau 4R CI. No. 16255 (Ponceau 4R)
- Eritrosin CI. No. 45430 (Erythrosine)
- Merah allura CI. No. 16035 (Allura red)
- Indigotin CI. No. 73015 (Indigotine)
- Biru berlian FCF CI No. 42090 (Brilliant blue FCF)
- Hijau FCF CI. No. 42053 (Fast green FCF)
- Cokelat HT CI. No. 20285 (Brown HT)
Bahaya
Konsumsi pewarna buatan dalam makanan meningkatkan risiko munculnya beberapa penyakit berikut.
- ADHD pada anak
- Kanker dan tumor
- Hiperaktivitas pada anak
Batas aman
Berikut adalah ADI untuk pewarna alami dan sintetis.7
- Anthocyanins: 0-2,5 mg/kg berat badan
- Turmeric: 0-3 mg/kg berat badan
- Tartrazin: 0-10 mg/kg berat badan
- Kuning kuinolin: 0-3 mg/kg berat badan
- Sunset yellow FCF: 0-4 mg/kg berat badan
- Karmoisin: 0-4 mg/kg berat badan
- Ponceau 4R: 0–4 mg/kg berat badan
- Eritrosin: 0–0,1 mg/kg berat badan
- Merah allura: 0–7 mg/kg berat badan
- Indigotin: 0–5 mg/kg berat badan
- Biru berlian FCF: 0-6 mg/kg berat badan
- Hijau FCF: 0–25 mg/kg berat badan
- Cokelat HT: 0–1,5 mg/kg berat badan
Sedangkan untuk zat pewarna jenis carotenoid, klorofil, dan cochineal, unsur toksiknya sangat rendah dan tidak akan membahayakan kesehatan selama digunakan dalam takaran yang diperlukan.7
Pengawet
Pengawet berfungsi untuk menghambat, menghentikan, dan melindungi makanan dari proses fermentasi, pembusukan, dan bentuk kerusakan lain sehingga masa simpannya lebih lama.1
Jenis
Berikut adalah pengawet yang diizinkan oleh BPOM untuk digunakan secara luas.7
- Asam sorbat (Sorbic acid) dan garamnya
- Asam benzoat (Benzoic acid) dan garamnya
- Etil para-hidroksibenzoat (Ethyl parahydroxybenzoate)
- Metil para-hidroksibenzoat (Methyl para hydroxybenzoate)
- Sulfit (Sulphites)
- Nisin (Nisin)
- Natamisin (Natamycin)
- Nitrit (Nitrites)
- Nitrat (Nitrates)
- Asam propionat (Propionic acid) dan garamnya
- Lisozim hidroklorida (Lysozyme hydrochloride)
Bahaya
Konsumsi pengawet makanan memiliki beberapa risiko kesehatan berikut.1
- Penderita asma dan urtikaria sensitif terhadap jenis pengawet asam benzoat dan paraben.
- Asam benzoat dalam jumlah banyak dapat mengiritasi lambung.
- Pengawet ilegal seperti boraks dan formalin dapat memicu pertumbuhan sel kanker.
- Penggunaan boraks yang dicampur dengan soda api mempunyai sifat mengiritasi sistem pencernaan.
Batas aman
Berikut adalah jumlah aman konsumsi harian jenis pengawet di atas.7
- Asam sorbat: 0–25 mg/kg berat badan
- Asam benzoat: 0–5 mg/kg berat badan
- Etil para-hidroksibenzoat: tidak ditentukan
- Metil para-hidroksibenzoat: 0–10 mg/kg berat badan
- Sulfit: 0–0,7 mg/kg berat badan
- Nisin: 0–2 mg/kg berat badan
- Natamisin: 0–0,3 mg/kg berat badan
- Nitrit: 0–0,06 mg/kg berat badan
- Nitrat: 0–3,7 mg/kg berat badan
- Asam propionat: tidak terbatas
- Lisozim hidroklorida: tidak ditentukan
Penguat rasa
Penguat rasa adalah zat aditif untuk memperkuat atau memodifikasi rasa dan/atau aroma makanan atau minuman.7
Label “rasa” pada makanan dan minuman sering kali adalah sebuah tipuan. Meskipun tertulis “rasa original”, perasa buatanlah yang umumnya digunakan untuk menciptakan rasa tersebut.4
Jenis
Berikut adalah pengawet yang diizinkan pemakaiannya oleh BPOM.7
- Asam L-glutamat (L-Glutamic acid) dan garamnya
- Asam guanilat (Guanylic acid) dan garamnya
- Asam inosinat (Inosinic acid) dan garamnya
- Garam-garam dari 5’- ribonukleotida (Salts of 5’ – ribonucleotides)
Bahaya
Penelitian menunjukkan bahwa MSG yang dikonsumsi tidak dapat menembus plasenta dan tidak terkandung dalam ASI. Artinya, konsumsi penguat rasa MSG tergolong aman atau tidak berbahaya bagi ibu hamil dan menyusui.
Batas aman
Ternyata, jumlah aman asupan harian penguat rasa tidak ditentukan dalam Peraturan BPOM No.11 Tahun 2019.
Bahkan, organisasi besar seperti EU’s Scientific Committee for Food dan the FDA sepakat akan tidak perlunya rekomendasi batas harian konsumsi MSG dan peringatan untuk wanita hamil.
Tips memilih makanan yang aman
Mengingat bahaya dari sejumlah zat aditif yang dapat mengancam kesehatan Mommy dan janin, berikut beberapa tips untuk memilih makanan yang aman.
Baca label pada kemasan dengan teliti
Perhatikan komposisi setiap makanan dan minuman yang Mommy konsumsi.
Jangan berlebihan
Bagaimanapun juga, setiap makanan kemasan pasti mengandung zat aditif yang bisa berdampak buruk bagi tubuh.
Batasi konsumsi gula
Makanan manis yang mengandung gula boleh dikonsumsi asalkan tidak menggantikan makanan sehat, dan Mommy tidak bermasalah dengan berat badan.
Pilih bahan alami
Sebisa mungkin pilihan makanan dan minuman yang menggunakan bahan alami. Jka mengkonsumsi makanan dengan zat aditif, pastikan konsumsi dalam sehari dari berbagai makanan tidak melebihi jumlah aman konsumsi harian.
Pilih produk segar
Pilih produk segar dibandingkan makanan olahan (processed food).
Waspadai makanan yang mengandung formalin
Ciri makanan yang mengandung formalin di antaranya tidak dihinggapi lalat, teksturnya kenyal, tahan lebih lama, dan hewan menolak memakannya saat ditawarkan.1
Bahaya zat aditif bagi ibu hamil mengintai dari sebagian besar makanan dan minuman yang beredar. Karenanya, Mommy perlu berhati-hati dalam memilih makanan dan minuman selama kehamilan.
Ditulis oleh : Muna Fitria – Tim Penulis Mommy 101 disadur dari berbagai sumber
Sumber
- Bahan Tambahan Pangan (Pemanis, Pengawet, Pewarna). 2013. https://profetik.farmasi.ugm.ac.id/archives/228 (diakses pada 24 Februari 2021)
- Meija, Laila, dan Dr. Dace Rezeberga. Proper Maternal Nutrition during Pregnancy Planning and Pregnancy. 2017. https://www.euro.who.int/data/assets/pdf_file/0003/337566/Maternal-nutrition-Eng.pdf (diakses pada 24 Februari 2021)
- Artificial Sweeteners. https://www.uab.edu/shp/nutritiontrends/recipes-food-facts/food-facts/artificial-sweeteners (diakses pada 24 Februari 2021)
- EWG’s Dirty Dozen Guide to Food Additives. 2014. https://www.ewg.org/research/ewg-s-dirty-dozen-guide-food-additives (diakses pada 24 Februari 2021)
- Zelman, Kathleen. Color Additives. 2017. https://foodandnutrition.org/september-october-2017/color-additives/ (diakses pada 26 April 2021)
- Rohrig, Brian. Eating with Your Eyes: The Chemistry of Food Coloring. 2015. https://www.acs.org/content/acs/en/education/resources/highschool/chemmatters/past-issues/2015-2016/october-2015/food-colorings.html (diakses pada 26 April 2021)
- Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 11 tahun 2019 Tentang Bahan Tambahan Pangan. https://standarpangan.pom.go.id/dokumen/peraturan/2019/PerBPOM_No_11_Tahun_2019_tentang_BTP.pdf (diakses pada 26 April 2021)
- Pomichter, Sam. Dispelling the Danger of Monosodium Glutamate (MSG). 2019. https://www.jyi.org/2019-april/2019/4/1/dispelling-the-danger-of-monosodium-glutamate-msg (diakses pada 26 April 2021)

