Mengatasi Bayi Mencret
Gejala
Bayi dikatakan mencret atau diare apabila memenuhi dua gejala berikut:
- Feses. Tekstur feses bayi yang mengalami diare adalah lembek atau cair tanpa ampas.
- Frekuensi. Bayi yang mengalami diare adalah yang mengeluarkan feses encer sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari
Penyebab
Berikut adalah penyebab bayi diare:
- Infeksi. Penyebab utama diare pada bayi adalah infeksi virus. Namun dapat pula disebabkan bakteri, atau parasit
- Perubahan pola makan bayi atau Mommy ketika menyusui
- Penggunaan obat-obatan. Misalnya, antibiotik yang dikonsumsi bayi atau Mommy dapat menyebabkan tidak seimbangnya jumlah bakteri dalam usus
- Intoleransi laktosa. Kesulitan mencerna ASI dapat menyebabkan diare pada bayi.
Komplikasi
Mencret atau diare yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan dehidrasi pada bayi yang berujung pada komplikasi berikut ini:
- Kejang
- Infeksi saluran kemih
- Syok hipovolemik atau keadaan bahaya akibat kehilangan cairan secara mendadak
- Kematian
Penanganan
Berikut penanganan bayi diare yang bisa Mommy lakukan:
1. Tetap berikan ASI
ASI dan susu formula dapat mengganti cairan tubuh yang hilang. ASI juga dapat membantu mencegah dan mengobati diare.
2. Pemberian Oralit
Berikan cairan elektrolit atau oralit setiap 30 hingga 60 menit sebanyak 30 ml atau sesuai anjuran dokter.
3. Pemberian Zinc
Berikan suplemen zinc selama 10 hari berturut-turut, meskipun diare sudah berhenti. Zinc mempercepat penyembuhan diare dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi.
Pada bayi usia <6 bulan, berikan zinc sebanyak 10 mg/hari. Sedangkan, pada usia >6 bulan, berikan sebanyak 20 mg/hari.
4. Antibiotik
Antibiotik dapat diberikan atas rekomendasi dokter jika mencret disebabkan oleh infeksi bakteri.
Pencegahan
Lakukan pencegahan agar bayi tidak mengalami diare, dengan cara berikut:
- Jaga kebersihan. Cucilah tangan sebelum menyusui dan menyiapkan atau memberikan makanan untuk bayi.
- Vaksinasi. lakukan vaksinasi rotavirus untuk melindungi bayi dari penyebab utama diare.
Kapan harus ke dokter
Segera bawa bayi ke dokter jika terjadi hal berikut:
Bayi usia di bawah 3 bulan
Segera periksa bayi ke dokter, apabila diare disertai demam.
Bayi usia di atas 3 bulan.
Segera bawa ke dokter, Jika diare menetap lebih dari 24 hingga 48 jam dan disertai gejala berikut:
- Demam
- Feses berwarna hitam atau disertai darah
- Jumlah urine bayi menurun
- Nyeri perut parah atau nyeri rektal
- Mulut kering atau bayi menangis tanpa air mata
- Mengantuk
- Rewel
- Perut, mata, dan pipi bayi tampak cekung
Sebagian besar diare dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, segera bawa ke dokter jika diare disertai demam dan dehidrasi.
FREQUENTLY ASKED QUESTION
Apa yang harus dilakukan saat bayi mencret?
Berikan cairan yang cukup dengan ASI, susu formula atau oralit untuk mencegah dehidrasi.
Perhatikan tanda-tanda dehidrasi, seperti: demam, jumlah urine yang menurun, terus-menerus mengantuk, mulut, lidah, dan kulit kering, serta perut, mata, atau pipi tampak cekung.
Apa obat mencret untuk bayi?
Obat mencret untuk bayi bergantung pada penyebabnya. Sebagian besar disebabkan virus dan dapat sembuh sendiri.
Berikan cairan yang cukup, oralit dan zinc untuk meredakan diare dan meningkatkan kekebalan tubuh.
Pemberian antibiotik hanya diberikan jika dokter mendiagnosis adanya infeksi bakteri.
Kenapa BAB bayi sering cair?
Pada umumnya, BAB cair merupakan hal yang wajar ditemukan pada bayi. Bila frekuensi BAB cair lebih dari 3 kali dalam sehari, kemungkinan bayi mengalami diare.
Ditulis oleh :Â apt. Novita Hendriyadi, S. Farm., M.Farm–Tim penulis Mommy 101, disadur dari berbagai sumber.
Sumber
- Diarrhea in infants. https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000691.htm (diakses tanggal 21 Juni 2021)
- Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diarrhea/symptoms-causes/syc-20352241 (diakses tanggal 21 Juni 2021)
- Seattle Children’s. Diarrhea (0-12 months). https://www.seattlechildrens.org/conditions/a-z/diarrhea-0-12-months/ (diakses tanggal 21 Juni 2021)
- Departemen Kesehatan RI. 2011. Buku Saku Petugas Kesehatan.
- Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/rotavirus/vaccination.html (diakses tanggal 21 Juni 2021)

