Kondisi Medis & Kehamilan

Terdapat Miom di Rahim, Bisakah Hamil?

Ada miom di rahim bisakah hamil? Keberadaan miom juga sering dikaitkan dengan kesuburan wanita. Simak fakta-faktanya di artikel ini, yuk.

Untuk memahami miom dan kaitannya dengan kesuburan, yuk disimak bersama pemaparannya.

 

Bisakah Hamil Meski Ada Miom?

  • Kebanyakan miom tidak mengganggu kesuburan. Artinya, meskipun memiliki miom tetapi masih bisa hamil. Namun, ini tergantung pada ukuran dan lokasi keberadaan miom.

  • Jika tidak mengganggu perjalanan sperma untuk mencapai sel telur, maka pembuahan dan implantasi embrio bisa terjadi.

  • Miom yang berada di dalam rongga rahim, atau berdiameter lebih dari 6 cm di dalam dinding rahimlah yang biasanya mengganggu kesuburan. Perlu menjadi catatan, sekitar 5-10 persen wanita dengan masalah kesuburan memiliki miom.

Hal-hal berikut ini menyebabkan miom berpotensi mengurangi kesuburan dan memperkecil peluang hamil:

  1. Perubahan bentuk serviks bisa memengaruhi jumlah sperma yang bisa masuk ke rahim.

  2. Perubahan bentuk rahim bisa mengganggu pergerakan sperma atau embrio.

  3. Tuba falopi bisa tersumbat oleh miom.

  4. Ketika miom memengaruhi ukuran lapisan rongga rahim.

  5. Saat aliran darah ke rongga rahim terpengaruh. Hal ini dapat menurunkan kemampuan embrio untuk menempel ke dinding rahim.

Miom sebenarnya sangat umum terjadi. 30-50 persen dari populasi mengalaminya, atau sekitar 1 dari 3 wanita. Selain itu, infertilitas bisa terjadi karena banyak faktor. Miom bukan satu-satunya penyebab.

 

Pengertian Miom

Miom dan kista terkadang sering tertukar. Apalagi ada beberapa gejala kedua penyakit ini mirip.

Kista adalah massa yang sebagian besar berisi cairan. Sedangkan miom adalah tumor jaringan otot atau semacam daging tumbuh. Miom terjadi ketika satu sel otot di dinding rahim berkembang biak dan tumbuh membentuk tumor yang bersifat non-kanker.

 

Jenis Miom

Miom biasanya ditemukan di dalam atau di sekitar rahim. Terkadang ditemukan pula di leher rahim. Berdasarkan lokasinya, miom dibedakan menjadi tiga jenis utama, yaitu:

  1. Subserosal, berada di dinding luar rahim (55%).

  2. Intramural, tumbuh di lapisan otot dinding rahim (40%).

  3. Submukosal, menonjol ke dalam rongga rahim (5%).

Miom dapat terhubung ke rahim melalui tangkainya. Bisa juga melekat pada ligamen atau organ terdekat seperti kandung kemih dan usus. Jarang sekali miom berada di luar rongga panggul.

 

Ukuran miom bervariasi.

Ada yang sangat kecil sehingga tidak terdeteksi oleh mata manusia. Ada pula miom berukuran besar, sehingga memperlebar rahim. Bahkan saking besarnya bisa mencapai tulang rusuk dan menambah berat badan.

 

Gejala Miom

Seorang wanita bisa mengalami satu atau beberapa miom. Meski begitu, keberadaan miom sering kali tidak disadari karena tidak bergejala.

Dokter bisa saja menemukan miom secara tidak sengaja ketika melakukan pemeriksaan panggul atau USG kehamilan.

Gejala yang muncul dapat dipengaruhi oleh lokasi, ukuran, dan jumlah miom. Pada wanita yang memiliki gejala, tanda dan gejala miom yang paling umum antara lain:

  1. Pendarahan menstruasi yang berat dan menyakitkan.

  2. Menstruasi berlangsung lebih dari seminggu.

  3. Sakit perut.

  4. Tekanan atau nyeri panggul.

  5. Sering buang air kecil dan kesulitan mengosongkan kandung kemih.

  6. Sembelit.

  7. Sakit punggung bawah atau kaki.

  8. Sakit atau ketidaknyamanan saat berhubungan seks.

 

Penyebab Miom

Tidak ada yang tahu pasti penyebab munculnya miom. Kendati demikian, miom sering dikaitkan dengan hormon estrogen. Ini adalah hormon reproduksi wanita yang dihasilkan ovarium.

Miom sering ditemukan pada usia subur. Peluang terjadinya miom menurun ketika tingkat estrogen berkurang, terlebih ketika menopause tiba.

Zat yang membantu tubuh memelihara jaringan, seperti faktor pertumbuhan mirip insulin, juga bisa memengaruhi pertumbuhan miom.

Keberadaan matriks ekstraseluler (ECM) juga ditengarai bisa menyebabkan miom. ECM adalah zat yang membuat sel tubuh saling menempel. ECM meningkat pada miom. Selain itu, ECM juga bisa menyebabkan perubahan biologis dalam sel itu sendiri.

 

Komplikasi Miom

Umumnya miom tidak berbahaya. Akan tetapi miom berpotensi menyebabkan ketidaknyamanan dan komplikasi. Berikut ini komplikasi yang mungkin muncul:

1. Anemia

Anemia atau penurunan sel darah merah bisa menyebabkan kelelahan akibat kehilangan banyak darah. Dalam kasus yang jarang, transfusi darah akibat komplikasi miom bisa dilakukan.

2. Masalah saat hamil

Komplikasi bisa terjadi apabila miom muncul selama kehamilan. Sebab miom terkadang menyebabkan masalah perkembangan bayi.

Keberadaan miom juga bisa menyebabkan wanita yang sedang hamil sering mengalami sakit perut. Risiko persalinan prematur pun menghantui.

Miom juga bisa mengakibatkan kesulitan selama persalinan. Jika ukurannya besar dan menghalangi vagina, maka operasi caesar bisa jadi pilihan.

3. Keguguran

Dalam kasus yang jarang terjadi, miom dapat menyebabkan keguguran.

 

Faktor Risiko Miom

Ada beberapa faktor risiko yang diketahui bisa menyebabkan miom berkembang. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Usia subur

Miom paling sering terjadi pada usia subur, utamanya wanita berusia 30 hingga 50 tahun. Hal ini terkait dengan produksi hormon estrogen yang masih aktif.

2. Kelebihan berat badan

Wanita yang kelebihan berat badan juga lebih berisiko mengalami miom. Sebab kelebihan berat badan meningkatkan estrogen dalam tubuh.

3. Ras

Wanita Afrika-Karibia yang berkulit hitam cenderung memiliki miom daripada wanita dari ras lain. Wanita kulit hitam disebut dua hingga tiga kali lebih mungkin mengalami miom berulang dan komplikasi. Keterkaitan ras dan miom masih belum jelas.

4. Faktor lain

Faktor lain ini meliputi menstruasi usia dini, kekurangan vitamin D, serta konsumsi daging merah yang tinggi. Rendahnya asupan sayuran hijau, buah-buahan, dan produk susu juga ditengarai meningkatkan risiko terjadinya miom. Konsumsi alkohol juga menjadi penyumbang faktor risiko munculnya miom.

 

Diagnosis Miom

Pemeriksaan panggul akan dilakukan jika dokter mencurigai keberadaan miom. Selanjutnya tes penunjang disarankan dilakukan untuk memastikan diagnosis.

1. Ultrasonografi (USG)

USG yang digunakan untuk membantu mendiagnosis miom yakni USG perut dan USG transvaginal. Gambar yang dihasilkan oleh pemindaian ini dikirimkan ke monitor, sehingga dokter dapat melihat apakah ada tanda-tanda miom.

2. Histeroskopi

Histeroskopi sering digunakan untuk mencari keberadaan miom yang menonjol ke rongga rahim (submukosal). Caranya, teleskop kecil dimasukkan ke dalam rahim melalui vagina dan leher rahim, sehingga dokter dapat memeriksa bagian dalam rahim. Diperlukan waktu sekitar 5 menit untuk melakukannya.

3. Laparoskopi

Prosedur ini dilakukan untuk mencari miom yang menonjol ke luar rahim (subserosal) atau pun di lapisan oton dinding rahim (intramural). Caranya, teleskop kecil dimasukkan melalui sayatan kecil di perut. Kamera dari teleskop merekam gambar bagian dalam perut atau panggul, dan menampilkannya ke monitor televisi.

4. Pencitraan resonansi magnetik (MRI)

MRI dapat menunjukkan lebih rinci ukuran dan lokasi miom, serta membantu menentukan pilihan pengobatan yang tepat. MRI sering digunakan pada wanita dengan rahim yang lebih besar atau pada wanita yang mendekati menopause.

5. Biopsi

Ini merupakan prosedur pengambilan sampel jaringan kecil selama histeroskopi atau laparoskopi. Gunanya untuk pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium. Dengan begitu bisa diketahui apakah tumornya bersifat jinak atau ganas.

 

Pencegahan Miom

Miom tidak bisa dicegah. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah memperkecil faktor risikonya. Caranya dengan menjalankan gaya hidup sehat, seperti menjaga berat badan ideal serta mengonsumsi buah dan sayur.

Pemeriksaan panggul secara teratur bisa dilakukan juga untuk mendeteksi keberadaan miom. Beberapa penelitian juga menunjukkan penggunaan kontrasepsi hormonal dikaitkan dengan risiko fibroid yang lebih rendah.

 

Pengobatan Miom

Pengobatan miom bisa tidak dilakukan apabila tidak menimbulkan gejala. Atau bila miom hanya menimbulkan sedikit gejala dan tidak memengaruhi aktivitas sehari-hari.

 

Pengobatan untuk Mengatasi Gejala

1. Sistem intrauterin levonorgestrel (LNG-IUS)

Merupakan perangkat plastik berbentuk T kecil yang ditempatkan di rahim. Perangkat ini secara perlahan melepaskan hormon progestogen levonorgestrel.

Dampaknya bisa menghentikan pertumbuhan lapisan rahim dengan cepat, sehingga lebih tipis dan mengurangi pendarahan.

Efek sampingnya antara lain perdarahan tidak teratur yang bisa berlangsung lebih dari 6 bulan, jerawat sakit kepala, dan nyeri payudara. Dalam beberapa kasus, bahkan ada yang tidak mendapat menstruasi sama sekali.

 2. Asam traneksamat

Asam traneksamat bekerja dengan menghentikan pendarahan di lapisan rahim. Pengobatan ini bisa mengurangi kehilangan darah sekitar 50 persen. Namun, perawatan harus dihentikan jika gejala tidak membaik dalam 3 bulan.

Gangguan pencernaan dan diare adalah efek samping dari tablet asam traneksamat.

3. Obat antiinflamasi

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen dan asam mefenamat, bisa digunakan. Umumnya diminum 3 kali sehari sejak hari pertama haid sampai pendarahan berhenti atau berkurang.

Cara kerja NSAID mengurangi produksi prostaglandin yang terkait dengan menstruasi berat. Gangguan pencernaan dan diare adalah efek samping NSAID yang umum terjadi.

4. Pil KB

Pil KB bisa meringankan pendarahan. Bahkan beberaoa pil KB bisa mengurangi nyeri haid.

5. Progestogen Oral dan Suntik

Progestogen oral adalah progesteron sintetis yang dapat membantu mengurangi menstruasi berat. Pengobatan ini mencegah pertumbuhan lapisan rahim dengan cepat.

Efek samping dari progestogen oral antara lain penambahan berat badan, nyeri payudara, dan jerawat.

Sedangkan progesteron suntik apat disuntikkan setiap 12 minggu selama pengobatan diperlukan. Cara kerjanya juga mencegah lapisan rahim tumbuh dengan cepat.

Efek samping yang umum dari progestogen suntik yakni penambahan berat badan,

perdarahan tidak teratur, menstruasi yang terhenti, gejala pramenstruasi (PMS) seperti kembung, retensi cairan, dan nyeri payudara.

 

Pengobatan untuk Mengecilkan Miom

Beberapa pengobatan dilakukan bukan untuk menghilangkan miom, tetapi untuk mengecilkannya. Misalnya dengan pemberian Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) agonis

GnRH agonis bekerja dengan menghalangi produksi estrogen dan progesteron. Akibatnya seorang wanita akan mengalami keadaan seperti menopause sementara. Menstruasi berhenti, miom menyusut, dan anemia sering kali membaik.

Efek samping GnRH agonis adalah mengalami gejala seperti menopause, misalnya hot flushes, keringat yang meningkat, kekakuan otot, dan vagina yang kering. Dokter biasanya meresepkan GnRH agonis untuk mengecilkan massa miom sebelum operasi.

 

Operasi

Jika miom membesar dan menimbulkan keluhan, dokter akan menyarankan operasi atau pembedahan. Beberapa prosedur bedah utama yang digunakan untuk mengatasi miom yakni:

 1. Histerektomi

Merupakan prosedur pembedahan untuk mengangkat rahim. Cara ini dianggap paling efektif untuk mencegah miom datang kembali. Histerektomi disarankan jika miom berukuran besar, disertai pendarahan hebat.

2. Miomektomi

Miomektomi adalah operasi untuk mengangkat miom dari dinding rahim. Miomektomi tidak cocok untuk semua jenis miom. Prosedur disesuaikan dengan ukuran dan posisi miom.

Miomektomi cukup efektif untuk mengatasi miom. Meskipun demikian, ada kemungkinan miom akan muncul kembali dan memerlukan pembedahan lanjutan.

3. Reseksi histeroskopi fibroid

Prosedur ini menggunakan teleskop tipis (histeroskop) dan instrumen bedah kecil untuk mengangkat miom submukosal. Reseksi histeroskopi fibroid tidak memerlukan sayatan. Histeroskop dimasukkan melalui vagina dan masuk ke dalam rahim melalui serviks.

Kram perut mungkin dikeluhkan setelah prosedur usai dilakukan. Perdarahan vagina juga mungkin terjadi, namun berhenti dalam beberapa pekan.

4. Morselasi histeroskopi fibroid

Histeroskop dimasukkan ke dalam rahim melalui serviks. Kemudian alat khusus yang disebut morcellator digunakan untuk memotong dan mengangkat jaringan miom.

Dibandingkan dengan reseksi histeroskopi, morselasi histeroskopi hanya memasang histeroskop satu kali. Dengan begitu, dapat mengurangi risiko cedera rahim.

Prosedur ini menjadi pilihan jika terjadi komplikasi serius. Tindakan ini tergolong baru. Bukti keamanan secara keseluruhan dan efektivitas jangka panjangnya masih terbatas.

 

Prosedur Nonbedah

Seiring bekembangnya teknologi kesehatan, penanganan miom juga semakin canggih. Kini ada pula prosedur nonbedah yang bisa dilakukan.

1. Embolisasi Arteri Uterina (UEA)

Prosedur ini direkomendasikan untuk wanita dengan miom besar. Prinsip dari terapi ini adalah melakukan penyumbatan (embolisasi) arteri uterina, sehingga miom bisa mengecil. Akan tetapi, efek keseluruhan dari prosedur ini terhadap kesuburan dan kehamilan belum pasti.

2. Ablasi endometrium

Ablasi endometrium adalah operasi untuk meluruhkan lapisan endometrium. Tujuannya adalah untuk mengurangi perdarahan uterus abnormal, serta mengatasi miom kecil di rahim. Prosedur ini melibatkan panas, listrik, atau laser. Tidak disarankan bagi wanita yang ingin memiliki lebih banyak anak.

3. Prosedur yang dipandu MRI

Ada dua teknik untuk mengatasi miom menggunakan panduan MRI, yakni:

  1. Ablasi laser perkutan (APL) dengan panduan MRI.

  2. Ultrasonografi terfokus transkutan dengan panduan MRI.

Teknik ini menggunakan MRI untuk mengarahkan jarum kecil ke tengah miom yang menjadi sasaran untuk dihancurkan.

Energi laser atau energi ultrasonik diarahkan melalui jarum untuk menghancurkan fibroid. Prosedur ini relatif baru, sehingga belum tersedia secara luas.

 

Frequently Asked Questions (FAQ)

Kaitan miom dan kehamilan memang kerap menimbulkan banyak pertanyaan. Nah, berikut ini beberapa pertanyaan tentang miom yang mungkin pernah berkelebat di benak kita.

 

Hamil dengan miom, bisakah melahirkan normal?

  • Jawabannya adalah: bisa. Asalkan miom di dalam rahim tidak mengganggu dan menghambat, atau mempersulit proses kelahiran per vaginam, maka bukan masalah.

  • Namun, miom membesar selama kehamilan. Penyebabnya adalah kadar hormon yang lebih tinggi dan meningkatnya aliran darah ke rahim. Membesarnya miom ini memunculkan rasa tidak nyaman, bahkan nyeri.

  • Nah, miom yang berukuran besar atau berjumlah banyak meningkatkan risiko janin sungsang. Risiko lain keberadaan miom saat kehamilan adalah solusio plasenta atau plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum melahirkan.

  • Jika ini terjadi, janin akan kesulitan menerima oksigen. Kondisi-kondisi ini umumnya membuat persalinan dilakukan melalui operasi caesar.

 

Setelah operasi miom, apakah bisa hamil?

  • Setelah operasi pengangkatan miom (miomektomi), peluang untuk hamil tetap ada. Tetapi peluang hamil ditentukan oleh seberapa banyak miom yang pernah diangkat.

  • Beberapa enelitian menunjukkan semakin banyak miom diangkat, kemungkinan hamil lebih kecil ketimbang miom yang sedikit diangkat.

  • Jika berencana hamil setelah operasi pengangkatan miom, disarankan untuk menunggu tiga sampai enam bulan. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan pada rahim untuk pulih terlebih dahulu.

  • Wanita yang penah menjalani miomektomi kemungkinan melahirkan bayi melalui operasi caesar. Sebab mimektomi dapar melemahkan rahim, sehingga lebih berisiko jika melahirkan per vaginam.

 

Adakah makanan untuk mengecilkan miom?

  • Para peneliti masih mempelajari bagaimana pola makan dapat memengaruhi miom. Namun, ditengarai konsumsi ham dan daging merah dikaitkan dengan risiko miom yang lebih tinggi.

  • Belum ada penelitian yang menyebut adanya makanan untuk mengecilkan miom. Dokter biasanya menyarankan pasien miom mengubah pola makan dengan tujuan memperlambat miom atau meredakan gejalanya.

  • Makanan yang disarankan adalah yang kaya serat seperti buah-buahan, sayuran, dan oat. Juga makanan yang kaya kalium seperti alpukat, tomat, dan pisang. Makanan yang baik pula dikonsumsi yakni yang kaya kalsium, fosfor, dan magnesium.

Miom merupakan kondisi yang banyak dialami wanita, namun sering kali bikin bingung. Semoga informasi tentang miom ini memberikan pemahaman yang lebih luas terkait kesehatan reproduksi kita ya.

 

Ditulis oleh : Nurvita Indarini

Komentar

Instagram Mommy.101

TestiMommy

Slide Image
Slide Image
Slide Image
Slide Image
Slide Image

Rentang kelahiran kedua yang cukup jauh, membuat saya sedikit lupa beberapa hal tentang parenting dan pengasuhan bayi. Informasi di website Mommy101 sangat membantu saya mengingat lagi semuanya. Terima kasih.

Eva, Mommy Lubna & Fadlan

New mom, young mom, senior mom, semua mommy wajib punya buku ini karena isinya sangat informatif, menarik, jelas dan padat, tidak ada lagi bingung-bingung soal perawatan bayi yaa moms.

Irsalina, mommy Aubrey dan Arsyila

Sebuah referensi terpercaya untuk ibu dan calon ibu. Sangat bermanfaat untuk panduan sehari-hari.

Mommy Fivi

Di Mommy 101 dari info yg basic sampe yg advanced ada semuah, bener-bener helpful buat first timer Mommy kaya aku. Sempet lupa minum folat acid, untung baca Mommy 101 jadi langsung gercep ambil n telen biar babyku tumbuh sehat. Makasi Mommy 101!

Jessica, Hamil 2 Bulan

Senang ketemu website Mommy101 yang lengkap banget infomasinya. Penyampaiannya ringan, menarik, dan mudah dipahami. Tapi tentu dengan sumber-sumber yang credible (bisa check di refrensinya). Thank you Mommy 101 for making our parenting tasks so much easier.

Sarah, Mommy Shifa