Kondisi Medis & Kehamilan

Panduan Lengkap Promil dengan Kista di Ovarium

Bisakah promil dengan kista? Apakah kista mempengaruhi kesuburan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, yuk simak pemarannya dalam artikel ini.

Bisakah program hamil (promil) dilakukan meski memiliki kista di ovarium? Pertanyaan ini kerap terlintas di benak para wanita.

Kista di ovarium kerap dijadikan penyebab sulit hamil. Saran agar kista ovarium diangkat pun sering didengar untuk meningkatkan peluang kehamilan. Untuk itu, simak yuk berbagai fakta tentang kista ovarium.

 

Apa Itu Kista Ovarium?

Kista ovarium merupakan kantung berisi cairan yang terbentuk di ovarium. Umumnya kista di ovarium tidak berbahaya. Biasanya kista ini tidak bersifat kanker.

Kista ovarium tidak selalu menimbulkan gejala. Namun, jika kista pecah maka yang bersangkutan akan merasakan nyeri dan tidak nyaman.

 

Jenis Kista Ovarium

Berikut ini beberapa jenis kista ovarium:

1. Kista Ovarium Fungsional

Kista ovarium fungsional adalah kantung yang terbentuk di permukaan ovarium selama atau setelah ovulasi. Umumnya kantung akan hilang setelah sel telur dilepaskan. Namun, kantung ini bisa bengkak bila telur tidak dilepaskan. Sebab lainnya adalah jika kantung menutup setelah sel telur dilepaskan.

Tanpa pengobatan, kista ini bisa hilang sendiri. Akan tetapi jika kista membesar, lalu pecah dan berdarah, maka akan menimbulkan rasa sakit.

2. Kistadenoma

Kistadenoma merupakan tumor jinak yang muncul dari epitel permukaan ovarium. Dari semua jenis tumor ovarium, cystadenoma berkontribusi pada sekitar 15 persen kasus. Kistadenoma tidak menyebar dan biasanya tidak menyebabkan penyakit serius.

Kistadenoma umumnya ada dua jenis yakni ovarii mucinous dan ovarii serosum. Kistadenoma ovarii mucinous sering membesar sedemikian rupa sehingga menyerupai orang hamil.

3. Kista Dermoid Ovarium

Kista jenis ini terbentuk pada permukaan atau di dalam ovarium. Keberadaan kista ini tidak memengaruhi fungsi ovarium. Tidak hanya berupa cairan, kista ini juga bisa mengandung jaringan seperti kulit, rambut, tulang, atau gigi.

Gejala kista dermoid ovarium berupa sakit di daerah panggul dekat sisi kista. Rasa sakit ini bisa jadi lebih terasa saat siklus menstruasi.

Dalam beberapa kasus, mulanya pasien disangka mengalami apendisitis akut atau infeksi saluran kemih. Pemeriksaan panggul dan ronsenogram akan dilakukan dokter untuk menegakkan diagnosis kista dermoid ovarium.

 

Bisakah Hamil Jika Ada Kista di Ovarium?

Beberapa jenis kista ovarium tidak mempengaruhi kesuburan. Kista ovarium fungsional, cystadenoma, dan kista dermoid ovarium merupakan kista yang secara umum tidak terkait dengan kesuburan. Meskipun memiliki kista tersebut, seorang perempuan masih memiliki peluang hamil.

 

Jenis Kista Ovarium yang Terkait dengan Kesuburan

Akan tetapi ada pula jenis kista ovarium yang terkait dengan kesuburan. Kista tersebut yakni:

1. Endometrioma

Endometrioma juga dikenal sebagai kista cokelat atau kista endometriosis. Kista ini biasanya terdapat dalam ovarium, dapat terjadi pada salah satu atau kedua ovarium. Merupakan salah satu manifestasi dari endometriosis.

Beberapa pasien mengalami endometrioma tanpa gejala. Sedangkan beberapa pasien lainnya mengeluhkan nyeri haid, nyeri panggul di luar masa haid, serta nyeri saat berhubungan seksual.

Perempuan dengan endometrioma memiliki lebih sedikit sel telur. Selain itu mereka juga mengalami gangguan pematangan sel telur.

2. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

PCOS adalah suatu kondisi yang ditandai dengan banyaknya kista kecil di ovarium. Kista-kista kecil ini berjajar mirip mutiara. Tanda lainnya adalah menstruasi tidak teratur, dan tingginya kadar hormon tertentu.

PCOS membuat tubuh tidak memproduksi semua hormon yang dibutuhkan sel telur untuk matang sepenuhnya. Kondisi ini mengakibatkan folikel tumbuh dan membentuk cairan, tetapi sel telur tidak bisa dilepaskan. Ovulasi tidak terjadi, sehingga folikel bisa berubah menjadi kista.

Keberadaan kista tertentu di ovarium bisa jadi memengaruhi peluang hamil. Apalagi bila kista dibiarkan tanpa diobati, sel telur akan semakin sedikit. Namun, peluang hamil seseorang tidak hanya ditentukan ovariumnya saja.

 

Gejala Kista Ovarium

Kista ovarium biasanya tidak bergejala. Kalau pun muncul gejala, yang sering dirasakan adalah nyeri atau tekanan di perut bagian bawah di sisi kista. Nyeri ini bisa saja terasa tajam, serta datang dan pergi.

Sering kali keluhan baru muncul ketika kista pecah, berukuran sangat besar, atau menghalangi suplai darah ke ovarium.

Gejala lain dari kista ovarium antara lain:

  • Nyeri di punggung bawah atau paha

  • Kesulitan mengosongkan kandung kemih

  • Sakit saat berhubungan seks

  • Penambahan berat badan

  • Nyeri selama menstruasi

  • Nyeri payudara

  • Perdarahan vagina abnormal dalam kasus yang jarang

  • Perut terasa berat atau penuh

 

Penyebab Kista Ovarium

Kista ovarium memiliki beberapa jenis, sehingga penyebabnya pun berbeda-beda. Jenis kista ovarium yang paling umum adalah kista fungsional. Kondisi ini terjadi pada wanita yang telah memulai siklus menstruasi hingga yang belum menopause.

Ada dua macam kista ovarium fungsional, yaitu:

1. Kista folikel.

Terjadi ketika sel telur tidak dilepaskan. Kista ini terus tumbuh di dalam ovarium.

2. Kista korpus luteum.

Kista ini terjadi ketika kantung di sekitar telur tidak larut setelah telur dilepaskan.

Kista juga bisa disebabkan oleh:

  • PCOS

  • Kehamilan

  • Infeksi panggul yang parah seperti klamidia

  • Pertumbuhan non-kanker

  • Kanker

 

Komplikasi Kista Ovarium

Kista di ovarium tidak selalu harus diangkat. Biasanya kista yang dianjurkan untuk dioperasi adalah yang ukurannya lebih dari 5 cm. Meski begitu, keberadaan kista ovarium sebaiknya tidak diremehkan.

Beberapa komplikasi bisa terjadi akibat kista ovarium, yakni:

1. Torsi ovarium

Ketika ada kista yang membesar, dapat menyebabkan ovarium bergerak atau berputar menyakitkan. Gejala torsi ovarium antara lain nyeri panggul secara tiba-tiba, mual, dan muntah.

Saat ovarium berputar, suplai darah ke ovarium bisa menurun atau terhenti. Alhasil ovarium akan mati. Torsi ovarium merupakan salah satu keadaan darurat paling umum dari organ reproduksi wanita.

2. Kista pecah

Semakin besar ukuran kista, maka semakin besar pula risiko pecahnya. Risiko kista pecah juga bisa terjadi karena melakukan aktivitas berat yang membebani panggul. Hubungan seksual juga bisa meningkatkan risiko ini.

Beberapa wanita tidak merasakan gejala, atau mungkin gejala yang ringan saja. Obat pereda nyeri bisa dikonsumsi untuk meringankan keluhan. Bila tidak ada pendarahan, biasanya akan sembuh sendiri.

Cairan dari kista fisiologis normal akan diserap oleh tubuh. Akan tetapi penyerapan ini tergantung pada jenis kistanya. Ada materi kista yang butuh lama untuk diserap tubuh dan bisa mengiritasi, sehingga perlu tindakan medis.

Dalam beberapa kasus, ada juga yang mengalami gejala lebih parah. Nyeri hebat di perut bagian bawah dan pendarahan internal. Pendarahan yang tidak terkontrol bisa mengancam jiwa. Karena itu, pasien mungkin perlu dirawat di rumah sakit.

 

Faktor Risiko Kista Ovarium

Seseorang mungkin memiliki kista ovarium karena faktor risiko sebagai berikut:

  1. Masalah hormonal.

  2. Kehamilan, karena kadang kista terbentuk saat ovulasi dan tetap di ovarium selama kehamilan.

  3. Endometriosis.

  4. Infeksi panggul yang parah dan infeksinya menyebar ke ovarium.

  5. Memiliki riwayat kista ovarium sebelumnya.

 

Diagnosis Kista Ovarium

Melalui pemeriksaan panggul, dokter akan mengetahui keberadaan kista ovarium. Namun, untuk menegakkan diagnosis jenis kistanya diperlukan tes lain.

1. Tes kehamilan

Tes kehamilan dilakukan untuk memastikan pasien sedang hamil atau tidak. Sebab kehamilan bisa memicu kista. Kemungkinan adanya kista korpus luteum juga bisa ditunjukkan melalui tes ini. Petunjuk muncul ketika hasil tes kehamilan positif, padahal tidak hamil.

2. USG panggul

Perangkat USG akan memberikan gambaran rahim seseorang dengan lebih jelas. Dari situlah dokter akan menganalisis keberadaan dan jenis kista ovarium. Dokter akan menyimpulkan apakah kista tersebut bermasa padat, berisi cairan, atau campuran keduanya.

3. Laparoskopi

Ini merupakan instrumen kecil yang dimasukkan ke dalam perut melalui sayatan kecil. Dokter bisa melihat ovarium melalui alat ini, bahkan bisa mengangkat kista ovarium yang ada. Mengingat tindakan ini adalah prosedur bedah, maka pasien akan diberi anestesi.

4. Tes darah CA 125

Jika kista di ovarium semakin padat, maka bisa meningkatkan risiko kanker ovarium. Karena itu, dokter akan meminta melakukan tes darah CA 125.

Antigen kanker 125 (CA 125) sering kali meningkat pada wanita dengan kanker ovarium. Akan tetapi pada kondisi non-kanker seperti endometriosis, miom, dan penyakit radang panggul, kadar CA 125-nya juga bisa meningkat.

 

Pencegahan

Jika seorang wanita memiliki masalah hormon, dokter bisa menyarankan terapi hormon atau pun konsumsi  pil KB. Pil ini diyakini dapat membantu mencegah kista ovarium.

Pemeriksaan panggul secara rutin juga perlu dilakukan. Pemeriksaan ini memastikan perubahan dalam ovarium bisa didiagnosis sedini mungkin.

Melakukan pencatatan siklus menstruasi pun bisa jadi cara pencegahan kista ovarium. Dari pencatatan bisa dilihat adakah perubahan siklus, termasuk gejala menstrusi yang tidak biasa.

 

Penyembuhan Kista Ovarium

Cara penyembuhan kista sangat tergantung pada usia, jenis dan ukuran, serta gejala yang muncul. Tanpa pengobatan, kista ovarium fungsional bisa hilang sendiri. Kista disarankan diangkat apabila menimbulkan gejala, membesar, dan tidak hilang.

Dalam berbagai kasus, kista bisa diangkat tanpa merusak ovarium (kistektomi ovarium). Akan tetapi, pada kondisi tertentu ovarium yang terkena harus diangkat. Sedangkan ovarium lainnya tetap dibiarkan utuh (ooforektomi).

Kista ovarium juga bisa mengering selama dilakukan laparoskopi. Namun, kasus ini sangat jarang.

 

Frequently Asked Questions (FAQ)

Kista ovarium memang lumrah dialami wanita. Kendati demikian, kista tidak bisa dianggap seperti jerawat belaka. Nah, berikut ini beberapa hal yang sering ditanyakan seputar kista ovarium.

 

Bagaimana ukuran kista yang normal?

Ukuran kista sebenarnya sangat bervariasi. Berkisar 1,27 cm hingga 10 cm, bahkan ada yang lebih besar lagi. Biasanya yang disarankan untuk dioperasi adalah yang berukuran lebih dari 5 cm.

 

Adakah makanan untuk menyembuhkan kista saat hamil?

Sebenarnya kista yang muncul pada saat hamil adalah wajar. Umumnya yang terjadi adalah kista korpus luteum dan akan menghilang sendiri. Kondisi ini terjadi karena korpus luteum menghasilkan hormon untuk memberi makan dan mendukung lapisan rahim dan janin di awal kehamilan.

Untuk keseimbangan hormon, bisa mengonsumsi makanan yang mengandung indole- 3 carbinol (I3C) seperti kembang kol, kubis, dan brokoli. Makanan kaya serat seperti pir, jeruk, lentil, dan kacang polong yang mengandung fitokimia juga baik dikonsumsi untuk mengurangi risiko kanker ovarium.

 

Punya kista endometriosis, bisakah hamil?

Jawabannya bisa. Akan tetapi hamil dengan kondisi mengidap endometriosis bisa lebih sulit dari biasanya. Kabar baiknya, sekitar 7 dari 10 wanita dengan endometriosis ringan hingga sedang bisa hamil tanpa pengobatan.

Hubungan antara infertilitas dan endometriosis belum jelas sepenuhnya. Namun, tingkat keparahan kondisi dan lokasi jaringan diduga berpengaruh.

 

Apakah kista ovarium membahayakan?

Sebenarnya kista biasa terjadi, jadi tidak perlu panik berlebihan. Namun, jangan mengabaikannya juga. Sebab kista ovarium memiliki berbagai macam jenis. Ada yang bisa hilang sendiri, dan ada yang butuh penanganan medis.

 

Kapan harus mencari pertolongan medis?

Jika khawatir kista berbahaya, maka harus segera berkonsultasi dengan dokter. Apabila merasakan nyeri panggul atau perut yang parah, serta sering muntah ada baiknya segera ke dokter.

 

Kista tidak selalu harus diangkat?

Tidak. Beberapa kista bahkan bisa hilang sendiri setelah satu hingga dua siklus menstruasi.

Jika tidak menimbulkan keluhan, kista dipantau dengan pemeriksaan ultrasound berulang. Tujuannya adalah untuk melihat apakah ada perubahan ukuran dan penampakan kista.

 

Kapan kista harus dioperasi?

Jika kista sangat besar, menyebabkan gejala, atau jika dicurigai ada kanker. Jenis pembedahan tergantung beberapa faktor. Misalnya seberapa besar kista, usia pasien, keinginan pasien memiliki anak, dan riwayat kanker ovarium di keluarga.

Apabila kista dianggap jinak, bisa dilakukan operasi minimal invasif. Operasi dilakukan dengan teknik laparoskopi, menggunakan sayatan kecil dan alat khusus.

Bisa pula dilakukan pembedahan terbuka. Operasi ini dilakukan jika dicurigai adanya kanker atau ukuran kista terlalu besar.

Jadi program hamil wanita dengan kista ovarium memiliki peluang yang berbeda, tergantung jenis dan lokasi kistanya. Yuk, simak juga artikel berikutnya

 

Baca Juga : Program Hamil di Usia 35 Tahun ke Atas, Ini yang Perlu Dipahami.

 

Ditulis oleh : Nurvita Indarini

Komentar

Instagram Mommy.101

TestiMommy

Slide Image
Slide Image
Slide Image
Slide Image
Slide Image

Rentang kelahiran kedua yang cukup jauh, membuat saya sedikit lupa beberapa hal tentang parenting dan pengasuhan bayi. Informasi di website Mommy101 sangat membantu saya mengingat lagi semuanya. Terima kasih.

Eva, Mommy Lubna & Fadlan

New mom, young mom, senior mom, semua mommy wajib punya buku ini karena isinya sangat informatif, menarik, jelas dan padat, tidak ada lagi bingung-bingung soal perawatan bayi yaa moms.

Irsalina, mommy Aubrey dan Arsyila

Sebuah referensi terpercaya untuk ibu dan calon ibu. Sangat bermanfaat untuk panduan sehari-hari.

Mommy Fivi

Di Mommy 101 dari info yg basic sampe yg advanced ada semuah, bener-bener helpful buat first timer Mommy kaya aku. Sempet lupa minum folat acid, untung baca Mommy 101 jadi langsung gercep ambil n telen biar babyku tumbuh sehat. Makasi Mommy 101!

Jessica, Hamil 2 Bulan

Senang ketemu website Mommy101 yang lengkap banget infomasinya. Penyampaiannya ringan, menarik, dan mudah dipahami. Tapi tentu dengan sumber-sumber yang credible (bisa check di refrensinya). Thank you Mommy 101 for making our parenting tasks so much easier.

Sarah, Mommy Shifa