Waspadai Gejala Depresi karena Infertilitas, Berikut Tips Menanganinya
Dikutip dari Harvard Health Publishing, sebuah studi menemukan bahwa wanita yang mengalami masalah infertilitas merasakan kecemasan dan depresi yang sama dengan penderita kanker, hipertensi, atau pemulihan pasca serangan jantung.
7 Tanda dan Gejala Depresi
Penting untuk mengenali gejala depresi yang muncul dan segera melakukan penanganan.
- Perasaan sedih, kosong, dan putus asa: merasa seakan keadaan tidak akan menjadi lebih baik.
- Tidak bersemangat menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan untuk hal-hal yang biasanya kita senang lakukan, kita sudah tidak perduli lagi.
- Perubahan signifikan dalam nafsu makan dan berat badan, entah makin bertambah atau berkurang dengan drastis dalam waktu singkat.
- Merasa bersalah, benci dan kecewa pada diri sendiri, atau tidak berharga, bahkan hingga terbersit keinginan untuk bunuh diri.
- Perubahan pola tidur, baik menjadi insomnia (kesulitan tidur) atau ingin tidur terus.
- Makin mudah marah dan tersinggung; merasa sebal pada semua hal dan semua orang.
- Lemas dan tidak berenergi. Kita merasa kelelahan setiap saat hingga tidak mampu melakukan aktivitas harian.
Penanganan Depresi
Jika mulai muncul gejala depresi seperti di atas atau bahkan semakin parah, tandanya kita butuh segera mendapat bantuan, diantaranya sebagai berikut:
Dukungan Komunitas
Berbagi cerita dengan pihak netral dapat menjadi kesempatan untuk mengekspresikan berbagai perasaan atau pikiran yang mungkin aneh dan tidak nyaman dibicarakan dengan orang yang kita kenal.
Terlebih jika Mommy berbicara dengan orang-orang yang mengalami masalah yang sama, kita akan merasa lebih dimengerti dan tidak dihakimi.
Meskipun tidak dapat menangani depresi dalam jangka panjang, tentunya cara ini dapat meringankan stres yang kita rasakan.
Terapi Psikologis
Terapi dengan psikolog, yang biasa dikenal dengan talking therapy, dapat membantu kita mengenali dan mengubah pikiran negatif yang dimiliki agar kemudian dapat merubah perilaku negatif.
Salah satu terapi pskikologis yang umum digunakan adalah CBT (Cognitive Behavior Therapy). Terapi ini bertujuan untuk membantu kita mengenali pola pikir dan perasaan negatif yang dimiliki dan belajar untuk menyangsikan pemikiran tersebut.
Kita akan dilatih untuk memandang permasalahan secara objektif berdasarkan fakta sehingga kita bisa menilai apakah pemikiran tersebut rasional.
Terapi semacam ini dapat dilakukan secara berkelompok atau individu. Beberapa studi menunjukkan bahwa psikoterapi dapat menangani depresi, mengurangi stres dan gejala depresi seperti amarah dan kecemasan, serta meningkatkan peluang kehamilan.
Konseling
Cara ini bermanfaat terutama jika kita sedang menjalani perawatan IVF.
Konseling pernikahan akan memberikan wawasan mengenai gejala depresi yang mungkin menyertai selama program IVF dan menanganinya.
Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa konseling semacam ini tidak hanya menangani depresi, namun juga dapat meningkatkan peluang kehamilan.
Pengobatan Medis
Obat-obatan seperti anti-depresan terbukti efektif untuk menangani depresi dan gangguan kecemasan.
Opsi ini penting terutama bagi kita yang mengalami gejala depresi berat hingga kesulitan menjalani hari.
Kita tidak perlu mengkhawatirkan efek samping pengobatan medis terhadap tingkat kesuburan. Hingga saat ini, tidak ditemukan bukti bahwa obat-obatan yang umum digunakan untuk menangani depresi mempunyai efek buruk pada kesuburan. Bahkan ada beberapa anti-depresan yang aman digunakan selama kehamilan.
Namun perlu diingat bahwa penggunaan obat-obatan seperti ini harus dengan rekomendasi dokter dan harus dalam pengawasan dokter.
Dengan besarnya dampak emosional dan psikologis akibat infertilitas, kita perlu cermat mengenali gejala depresi yang muncul agar dapat segera dilakukan penanganan. Dengan demikian, peluang kehamilan pun dapat meningkat.
Ditulis oleh : Muna Fitria – Tim penulis Mommy 101 disadur dari berbagai sumber

